10 Pintu Gerbang "Iblis Masuk ke dalam Hati Manusia"


Fitrah hati adalah menerima hidayah dan menerima nafsu syahwat. Kedua kecenderungan ini bergumul di dalah hati secara terus-menerus, laksana dua tentara yang saling bertikai; tentara malaikat dan tentara syetan, hingga akhirnya hati menerima salah satu di antara keduanya, yang satu bersemayam, yang satunya lagi menyingkir karena kalah.

Ini yang seperti digambarkan oleh Allah سبحانه وتعالى dalam firman-Nya:

مِن شَرِّ‌ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ

“Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.” [Qs. An-Nas: 4]

Hati ibarat sebuah benteng, dan syetan adalah musuh yang ingin masuk memasuki benteng untuk menguasai dan merebutnya. Benteng tidak mungkin terlindungi, kecuali terjaga pintu-pintunya. Seseorang tidak dapat menyingkirkan syetan bila ia tidak mengetahui pintu-pintu masuknya.

Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, seluruh tubuh baik. Jika ia rusak, seluruh tubuh juga rusak. Ketahuilah (segumpal daging) itu ialah hati.” [HR. Imam al-Bukhâri No. 52,  2051 & Muslim No. 1599]

Berapa banyak jumlah pintunya? Sangat banyak pintunya, diantaranya pintu besar yang menjadi jalan utama yang tidak pernah sempit karena banyaknya tentara syetan. Yaitu antara lain:

Pertama, kedengkian dan sifat tamak (rakus). Jika seseorang tamak akan sesuatu, maka akan membuatnya tuli dan buta. Namun tetap saja cahaya bashirah (mata hati/hati nurani) akan memberitahukan pintu-pintu masuk mana saja yang dilalui syetan. Apabila cahaya ini sudah tertutup kedengkian dan ketamakan, maka dia tidak dapat melihatnya.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكْبَرُ ابْنُ آدَمَ وَيَكْبَرُ مَعَهُ اثْنَانِ حُبُّ الْمَالِ وَطُولُ الْعُمُرِ

Dari Anas bin Malik رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda: “Anak Adam menjadi tua, namun dua perkara menjadi besar bersamanya, cinta harta dan panjang umur”. [HR. Imam al-Bukhâri No. 6421]

Kedua, yakni amarah, syahwat dan keras hati. Amarah merupakan bius bagi akal. Bila tentara akal melemah, maka tentara syetan maju melakukan penyerangan dan mempermainkan manusia. Oleh karena itu, Rasulullah صلي الله عليه وسلم menasihati seseorang dengan berulang-ulang supaya tidak marah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ  أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه:

Sesungguhnya ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi صلي الله عليه وسلم: 

“Berilah wasiat kepadaku,” Nabi menjawab,”Janganlah engkau marah,” laki-laki tadi mengulangi berulang kali, beliau صلي الله عليه وسلم (tetap) bersabda: “Janganlah engkau marah.” [HR. Imam al-Bukhâri No. 6116]

Ketiga, suka menghias isi rumah, pakaian dan perkakas. Orang seperti ini ingin senantiasa mempercantik rumahnya, merubah atapnya, temboknya, memperluas bangunannya, membaguskan pakaiannya dan perkakas rumah tangganya, sehingga ia pun merasa rugi karena sepanjang hanya memikirkan hal tersebut. Padahal umur merupakan salah satu nikmat Allah سبحانه وتعالى yang akan ditanyakan penggunaannya.

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه , Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda:

لَا تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ

“Telapak kaki anak Adam tidak akan bergeser dari sisi Rabbnya pada hari kiamat  sampai  dia ditanya tentang lima (perkara): Tentang umurnya, untuk apa dia telah menghabiskannya; tentang masa mudanya, untuk apa dia telah menggunakannya; tentang hartanya, dari mana dia memperolehnya, dan untuk apa dia membelanjakannya; dan apa yang telah dia amalkan dari ilmu yang telah dia ketahui.” [HR. at-Tirmidzi No. 2416]

Keempat, kenyang dengan makanan juga pintu masuknya syetan ke hati manusia karena jika kenyang, maka gejolak syahwat seseorang akan menguat sehingga mengabaikan ketaatan. Nabi صلي الله عليه وسلم mengatkan bahwa seburuk-buruk wadah yang dipenuhi oleh manusia adalah perut.

Beliau صلي الله عليه وسلم bersabda:

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ حَسْبُ الْآدَمِيِّ لُقَيْمَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ غَلَبَتْ الْآدَمِيَّ نَفْسُهُ فَثُلُثٌ لِلطَّعَامِ وَثُلُثٌ لِلشَّرَابِ وَثُلُثٌ لِلنَّفَسِ

“Tidaklah manusia memenuhi wadah yang lebih buruk dari pada perut. Manusia mencukupi beberapa suap yang menegakkan tulang punggungnya. Jika keinginannya mengalahkannya (untuk menambah makan), maka sepertiga (perutnya) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk nafas.” [HR. Ibnu Majah No. 3349 & at-Tirmidzi No. 2380]

Kelima, tamak (rakus) terhadap orang lain. Siapa yang tamak terhadap orang lain, maka ia sedang memuji orang tersebut dengan pujian yang tidak selayaknya,mencari muka, tidak menyuruhnya kepada yang ma’ruf dan tidak mencegahnya dari yang munkar.

Keenam, terburu-buru dan tidak memiliki keteguhan hati. Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda,

اَلْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ وَالتَّأَنِّيْ مِنَ اللهِ تَعَالَى

“Terburu-buru itu dari syetan dan berhati-hati itu dari Allah.” [HR At-Tirmizi No. 2012]

Ketujuh, cinta terhadap harta. Selama cinta terhadap harta bersemayam di dalam hati, maka ia akan merusaknya, sehingga mendorong kepada pencarian harta dengan cara yang tidak benar, membawanya kepada sifat kikir, takut miskin dan mencegahnya mengeluarkan hak yang diwajibkan.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ‌ وَيَأْمُرُ‌كُم بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّـهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَ‌ةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّـهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Mahamengatahui.” [QS. al-Baqarah: 268]

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه , Nabi صلي الله عليه وسلم telah mengingatkan akhir perjalanan harta manusia dengan sabda beliau صلي الله عليه وسلم:

يَقُولُ الْعَبْدُ مَالِي مَالِي إِنَّمَا لَهُ مِنْ مَالِهِ ثَلَاثٌ مَا أَكَلَ فَأَفْنَى أَوْ لَبِسَ فَأَبْلَى أَوْ أَعْطَى فَاقْتَنَى وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ

“Seorang hamba berkata: “Hartaku, hartaku,” padahal harta yang dia miliki hanyalah tiga. (Yaitu): yang telah ia makan, lalu dia membinasakannya; yang telah ia pakai, lalu dia menjadikannya usang; yang telah dia berikan (shadaqah karena Allah Ta’ala), lalu ia pasti akan memilikinya. Adapun selain itu, maka ia akan pergi dan meninggalkannya untuk manusia (yaitu ahli warisnya).” [HR. Imam Muslim No. 2959]

Kedelapan, mengajak orang-orang awam kepada fanatisme mazhab, tanpa melaksanakan amalan sesuai esensinya (kepentingannya).

Kesembilan, mengajak orang-orang awam untuk berfikir mengenai Dzat Allah سبحانه وتعالى , sifat-sifat-Nya dan masalah-masalah yang sebenarnya di luar jangkauan akal mereka, sehingga membuat mereka ragu terhadap dasar agama. Karena sesungguhnya akal manusia terbatas, dan ia tidak mampu memikirkan Dzat Allah سبحانه وتعالى.
Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda:

تَفَكَّرُوْا فِيْ آلاَءِ اللهِ وَ لاَ تَفَكَّرُوْا فِيْ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ

“Berfikirlah tentang nikmat-nikmat Allah, dan janganlah kamu berfikir tentang (dzat) Allah ‘Azza wa Jalla.” [Silsilah ash-Shahîhah No. 1788]

Kesepuluh, berburuk sangka terhadap kaum muslimin. Melalui pintu ini, syetan ingin memutuskan tentang diri seorang Muslim berdasarkan buruk sangka, melecehkannya, mengatakan yang macam-macam tentang dirinya dan melihat dirinya lebih baik darinya. buruk sangka bisa dibuat sedemikian rupa, sehingga sesuai dengan selera orang yang buruk sangka. Orang mukmin adalah yang memaafkan orang mukmin lainnya, sedangkan orang munafik adalah yang mencari-cari keburukan. Maka setiap orang harus hati-hati terhadap titik-titik sensitif yang sering memancing tuduhan, agar orang lain tidak buruk sangka kepadanya.

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه , Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

“Jauhilah persangkaan, karena sesungguhnya persangkaan itu adalah berita yang paling dusta. Dan janganlah engkau mencari-cari (mendengarkan) berita tentang kejelakan manusia, janganlah engkau menyelidiki cacat-cacat manusia, janganlah engkau saling melakukan tipu daya, janganlah engkau saling hasad, janganlah engkau saling membenci, janganlah engkau saling membelakangi. Jadilah engkau hamba-hamba Allah yang bersaudara.” [HR. Bukhâri No. 6066 & Imam Muslim No. 2563]




Itulah sepuluh pintu masuk bagi syetan. Cara terapinya adalah menutup pintu-pintunya dengan cara membersihkan hati dari sifat-sifat yang tercela.

0 Response to "10 Pintu Gerbang "Iblis Masuk ke dalam Hati Manusia""

Post a Comment