Muhasabah Diri Terhadap Nafsu

Termasuk perkara yang wajib diimani oleh setiap muslim adalah perkara “ penghisaban terhadap amal seorang hamba dan balasannya dengan balasan yang seadil-adilnya kelak di hadapan pengadilan Dzat yang Maha Adil, Allah azza wajalla “

Allah berfirman,

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ

Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit; sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya (pahala). Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan. (QS. Al-Anbiyaa’: 47)

Dan Allah juga berfirman,

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

(Ingatlah) pada hari (ketika) setiap jiwa mendapatkan (balasan) atas kebajikan yang telah dikerjakan dihadapkan kepadanya, (begitu juga balasan) atas kejahatan yang telah dia kerjakan. Dia berharap sekiranya ada jarak yang jauh antara dia dengan (hari) itu. Dan Allah memperingatkan kamu akan diri (siksa)-Nya.” Allah Maha Penyayang kepada hamba-hambaNya (QS. Ali-Imran: 30)

Kedua ayat di atas mengingatkan kita akan perkara penting untuk dilakukan oleh seorang hamba selagi hayat masih di kandung badannya, sebelum dirinya meninggalkan dunia yang fana menempuh perjalanan menuju kehidupan sesungguhnya yang kekal abadi di akhirat nanti, yaitu “ Muhasabah diri terhadap nafsu sebelum maupun setelah berbuat”. Hal tersebut karena nafsu menjadi kunci pendorong seseorang untuk bertindak.
Muhasabah diri terhadap nafsu sebelum berberbuat adalah muhasabah yang dilakukan ketika muncul keinginan dan kehendak, tidak tergesa-gesa untuk melakukan perbuatan sehingga menjadi jelas perlunya melakukan perbuatan itu atau meninggalkannya.

Hasan berkata, “ Semoga Allah mengasihi seorang hamba yang berhenti pada awal keinginannya, apabila berbuat karena Allah maka dia meneruskannya dan apabila karena yang lain maka dia menghentikannya.

Adapun muhasabah diri terhadap nafsu setelah melakukan perbuatan, ini terdiri dari tiga macam.


1. Muhasabah diri terhadap nafsu terkait dengan ketaatan yang telah dilakukannya yang merupakan hak Allah. Hak Allah dalam ketaatan terdiri dari lima perkara, yaitu; (1) ikhlash dalam beramal, (2) memberi nasehat karena Allah, (3) mengikuti ajaran Rasul, (4) dilakukan dengan cara yang sebaik-baiknya, dan (5) merasakan adanya pertolongan Allah. Setelah itu semua, dia merasa dirinya telah menunaikannya secara tidak sempurna. Kemudian dia mengevaluasi diri terhadap nafsunya sendiri apakah ia telah menunaikan hak dalam tempat-tempat tersebut dan apakah dia telah menunaikannya secara baik.

2. Melakukan muhasabah terhadap setiap perbuatan yang meninggalkannya lebih baik daripada melakukannya.

3. Melakukan muhasabah terhadap perkara yang mubah atau perkara yang biasa. Mengapa dia melakukannya, apakah karena Allah dan kehidupan akherat, sehingga dia menjadi beruntung. Ataukah melakukannya karena dunia dan kepentingannya, sehingga keuntungan tersebut berubah menjadi kerugian dan kemenangannya menjadi hilang.

Yang paling berbahaya adalah mengabaikan, tidak melakukan muhasabah, melepaskan nafsu, memudahkan urusan dan menjalankannya. Hal ini akan membawa kepada kehancuran. Ini adalah kondisi orang-orang yang sombong. Dia menutup matanya dari akibat-akibat yang ditimbulkannya dan berjalan dengan apa adanya. Dia bersandar pada wilayah yang dimaafkan, sehingga dia mengabaikan muhasabah terhadap nafsunya dan tidak memikirkan akibatnya. Apabila dia melakukannya, dia akan mudah terjatuh dalam dosa, merasa nyaman dengan dosa, merasa kesulitan untuk memutuskannya. Apabila kesadarannya telah kembali, dia akan menyadari bahwa menjaga lebih mudah daripada memutus atau meninggalkan perkara yang wajar dan biasa.

Jadi, setiap diri hendaklah mengevaluasi diri terhadap nafsunya, terkait dengan kewajiban-kewajibannya, bila mendapatkan kekurangan maka hendaknya diperbaiki. Kemudian, terkait dengan perkara-perkara yang dilarang. Apabila seseorang telah melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang tersebut maka dia harus segera memperbaikinya dengan cara bertaubat, beristighfar dan melaksanakan perbuatan-perbuatan yang baik yang dapat menghapus (dosa) perbuatan yang terlarang tersebut.

Kemudian, terkait dengan kelalaian. Apabila dia telah lalai dengan apa yang menjadi tujuan dari penciptaannya, maka dia harus memperbaikinya dengan cara berdzikir dan mendekatkan diri kepada Allah, yaitu dengan melakukan berbagai bentuk amal shaleh yang disyariatkan.
Kemudian, bermuhasabah atas apa yang telah dia ucapkan, atau langkah-langkah kaki yang telah dia lakukan, atau perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh kedua tangannya, atau apa yang telah didengarkan oleh kedua telinganya. Apa yang telah diinginkan oleh nafsunya atas semua ini ? untuk siapa dia melakukannya ? dengan cara bagaimana dia melakukannya ?

Sungguh, setiap apa yang dilakukan oleh setiap kita akan ditanyakan oleh Allah, dimintai pertanggungjawaban dan diberi balasan dengan balasan yang seadil-adilnya. Allah mengingatkan dalam firmanNya,

فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu. (Qs. al-Hijr : 92-93)

Imam al-Baghawi mengatakan, maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua- yakni, pada hari kiamat nanti-, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu, -yakni, ketika di dunia. (Ma’alim at-Tanziil, 4/394)

Maka, alangkah bagusnya pesan Amirul Mukminin Umar bin Khaththab dalam salah satu kesempatan khutbahnya, beliau berkata,

حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا وزنوا أنفسكم قبل أن توزنوا وتزينوا للعرض الأكبر يوم تعرضون لا يخفى منكم خافية

Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (kelak pada hari kiamat). Timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang (amalnya) dan hiasilah diri kalian (dengan kebaikan) untuk (bekal) menghadapi al-‘Ardh al-Akbar (pengadilan terbesar), yaitu suatu hari dimana kalian dihadapkan (kepada Tuhan kalian), di mana tiada sesuatupun dari keadaan kalian yang tersembunyi (bagi Allah ). (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 7/96).

Maka, mari kita senantiasa mengevaluasi diri kita terhadap nafsu kita baik sebelum kita bertindak maupun setelah kita berbuat, mudah-mudahan hal ini menjadi sarana yang akan mengantarkan kita kepada keberuntungan dan menghindarkan kita dari kerugian yang nyata kelak di hadapan pengadilan Allah Dzat yang Maha Adil. Sehingga, kita tak akan menyesal di hari dimana penyelasan tak berguna lagi pada saat itu, seperti yang akan dialami oleh orang-orang yang dikabarkan oleh Allah dalam firmanNya,

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

Dan diletakkan kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya”, dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang jua pun.” (QS. Al-Kahfi: 49).

Wallahu a’lam

0 Response to "Muhasabah Diri Terhadap Nafsu"

Post a Comment